Jelang Vaksinasi Masal Rabies, Vaksinator Perlu Pastikan Vaksin Layak Dipakai

Jakarta — Pemerintah berencana melaksanakan kegiatan vaksinasi masal rabies saat puncak kegiatan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ,sekaligus menandai peringatan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day). Petugas di lapangan perlu memastikan bahwa vaksin yang akan digunakan benar-benar berkualitas agar tujuan digelarnya vaksinasi masal dapat dicapai.

Dalam acara webinar bertema “Optimalisasi Vaksinasi Rabies untuk Indonesia Bebas Rabies” yang diselenggarakan Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunung Sindur, Rabu (22/09) , Kepala BBPMSOH, drh Maidaswar, M.Si menekankan bahwa efektifitas kegiatan vaksinasi sangat tergantung pada kondisi vaksin yang akan digunakan.

Petugas Vaksinator Rabies BBPMSOH

Tak terkecuali vaksinasi masal rabies, hewan tak akan mendapatkan perlindungan atau kekebalan  dari serangan penyakit rabies bila vaksin yang digunakan sudah tak  memenuhi syarat  alias tak layak lagi digunakan.  “Karena itu petugas yang terlibat dalam kegiatan vaksinasi masal harus mengecek dan   memastikan bahwa vaksin yang akan digunakan  mutunya terjamin,”  jelasnya.

Maidaswar mengemukakan, sebelum dilaksanakannya  vaksinasi masal, hendaknya  pihak Dinas daerah  yang melaksanakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan  menguji dulu vaksin yang akan digunakan di institusi penguji terdekat.  “Sampel vaksin bisa dikirimkan ke kami atau ke balai veteriner terdekat untuk  dilakukan pengujian,” tuturnya.

Pengujian ini dinilainya penting mengingat fakta di lapangan menunjukkan bahwa  tak semua stok vaksin yang tersimpan  di kantor dinas daerah masih layak digunakan . BBPMSOH sejak tahun 2011 hingga 2021 secara proaktif telah melakukan kegiatan monitoring mutu vaksin di Dinas-dinas daerah.  Hasilnya, di tahun 2020 sekitar 36 persen vaksin di Dinas tak memenuhi syarat untuk digunakan, di tahun 2021 bahkan lebih dari 50 persen tak memenuhi syarat. 

Rantai Dingin       

drh. Maidaswar menuturkan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan banyak faktor yang  menyebabkan penurunan mutu vaksin, sebagian besar karena terjadi kendala dalam  sistem rantai dingin di kegiatan penyimpanannya. Antara lain pernah mengalami putus aliran listrik sehingga lemari pendingin menjadi tak berfungsi,  atau juga karena lemari pendingin terlalu padat bahkan ada yang penyimpanannya bercampur dengan produk minuman dingin.

Contohnya kegiatan kontrol temperatur ruang penyimpanan banyak yang mengabaikan, padahal seharusnya setidaknya dua kali dalam sehari kontrol dilakukan oleh petugas untuk menjaga stabilitas mutu vaksin.

“Masalah rantai dingin ini benar-benar serius dan harus dibenahi apalagi untuk kegiatan vaksinasi masal rabies . Kalau menyuntikkan vaksin yang sudah rusak percuma saja kita melakukan vaksinasi. Kejadian kasus rabies masih berpotensi meningkat padahal kita harus mendukung tekad pemerintah untuk bebas rabies di 2030,” tandas Maidaswar.

Karenanya, pihak Dinas di daerah dipandangnya perlu aktif melaksanakan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) menyangkut penanganan (handling) vaksin sesuai SOP terhadap petugas yang ditunjuk. Disamping pemantauan suhu tempat penyimpanan ,petugas juga perlu diedukasi agar rajin melakukan pencatatan stok vaksin. Sedapat mungkin dalam pelaksanaan satu program vaksinasi masal vaksin langsung habis terpakai.

Berdasarkan pengamatannya , kegiatan merger institusi dinas di daerah juga memunculkan kendala dari aspek kesiapan sumber daya manusia (SDM) terkait kegiatan penanganan rantai dingin vaksin yang dipasok ke daerah serta implementasi vaksinasi di lapangan . “ Penugasan pegawai baru tentunya harus disertai dengan aktivitas pelatihan yang intensif dan ini memerlukan waktu dan biaya,” ujarnya.

Sebagaimana UPT lingkup Ditjen PKH lainnya, BBPMSOH dalam rangka memperingati WRD juga menggelar kegiatan vaksinasi rabies gratis bagi masyarakat yang memiliki hewan peliharaan. Kegiatan vaksinasi rabies gratis tahun ini  berlangsung pada 21 September – 28 September  puncaknya  dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2021.

Sumber : Sinar Tani