Pembinaan Tekad Anti Korupsi Kementerian Pertanian 2021

Pada tanggal 27 Juli 2021, Presiden Joko Widodo resmi meluncurkan Core Value Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu BerAKHLAK. Peluncuran Core Value ini bertujuan untuk menyeragamkan nilai-nilai dasar bagi seluruh ASN di Indonesia sehingga dapat menjadi pondasi budaya kerja ASN yang profesional. Core Value BerAKHLAK merupakan singkatan dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Penetapan core values ASN BerAKHLAK dilakukan sebagai akselerasi transformasi ASN. Momentum perubahan ini mendukung pelaksanaan program prioritas kerja Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma’ruf Amin terkait Pembangunan SDM guna mewujudkan SDM yang memiliki profil pekerja keras, dinamis, terampil, dan menguasai IPTEK. Core values BerAKHLAK dilatarbelakangi oleh adanya penerjemahan yang berbeda-beda terhadap nilai-nilai dasar serta kode etik dan kode perilaku ASN yang tertuang dalam UU No. 5/2014 tentang ASN. Karenanya, perlu ditetapkan satu Core values ASN untuk mensarikan nilai-nilai dasar ASN ke dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN.

Kementerian Pertanian melalui Inspektorat Jenderal merespon dan menindaklanjuti pencanangan Core Value ini dengan melakukan pembinaan kepada para pegawai yang berfokus pada tekad untuk menciptakan ASN yang BerAkhlak dan Anti Korupsi dengan merangkul ASN Millenial yang akan menjadi agen perubahan di lingkup Kementerian Pertanian.

Penyelenggaraan Pembinaan Tekad Anti Korupsi ASN Kementerian Pertanian bertujuan untuk menjawab dan merespon dari pencanangan Core Value oleh Presiden Joko Widodo. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka peningkatan kapasitas SDM dan layanan pertanian bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dengan Tema “ ASN Millenial Kementerian Pertanian BERAKHLAK untuk mewujudkan Pertanian Maju, Mandiri dan Modern.”

Pegawai BBPMSOH ikut serta dalam kegiatan Pembinaan Tekad Anti Korupsi

Kegiatan Pembinaan Integritas Tekad Anti Korupsi Lingkup Kementerian Pertanian Tahun 2021 ini dilaksanakan di Bandung selama 3 hari, dari tanggal 12 s/d 14 Oktober 2021. Berdasarkan lampiran surat No B.2382/PW.410/G.1/09/2021 tanggal 30 September 2021, kegiatan ini mengundang sebanyak 124 peserta yang hadir secara Offline yang rata rata usia nya tidak lebih dari 40 Tahun dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan. Selain melalui Offline, kegiatan inipun diikuti oleh para peserta melalui Virtual Meeting (Zoom). Acara dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian yang juga selaku Plt Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian Dr. Kasdi Subagyono, M.Sc selain membuka dan memberi sambutan, beliau juga menyampaikan pemaparan materi terkait “Peran ASN Millenial Kementan BERAKHLAK dalam mewujudkan Pertanian Maju, Mandiri dan Modern.

Dalam kegiatan ini para peserta mendapatkan pemahaman tentang Anti Korupsi yang disampaikan melalui paparan dan diskusi oleh para Narasumber yang hadir, diantaranya :

  1. Dian Rachmawati (Penyuluh Anti Korupsi Utama) dari KPK dengan judul paparan : “Membangun ASN Millenial Pertanian Berintegritas”
  2. Muhammad Averouce (ASDEP Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan dan Evaluasi Reformasi Birokrasi) Menpan RB dengan judul paparan : “Strategi Percepatan Reformasi Birokrasi Peran Millenial dalam Perubahan”.
  3. Gandjar Laksmana B SH, MH (Pakar Hukum Pidana) Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan judul paparan : “Membangun Budaya Anti Korupsi”
  4. Sotarduga Hutabarat, M.Si, Ak (Auditor) dengan judul paparan : “Peran Millenial Mencegah Fraud”
  5. Muhammad Meirizky Ikhsan, SE, MPA (Duta Transformasi Kementerian Keuangan) Sharing Experience : Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan”
  6. Irfan Aulia Syaiful, M.Psi (Psikolog Sosial) dengan judul paparan : “Membangun ASN BERAKHLAK Untuk Menumbuhkan Budaya Anti Korupsi dari Perspektif Psikolog”

Menurut Undang Undang No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Tindakan Pidana Korupsi adalah Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Pemberantasan tindakan korupsi dilakukan dengan 3 cara yaitu : Pencegahan, Penindakan dan Pendidikan. Upaya pencegahan dan penindakan telah sering dilakukan akan tetapi angka korupsi di Indonesia masih saja tinggi. Maka diperlukan upaya lain yang diharapkan dapat lebih memberikan efek yang besar, yaitu dengan cara pendidikan. Cara pendidikan yang dilakukan yang menyasar kepada ASN Millenial diharapkan mampu memberikan efek yang besar bagi upaya pemberantasan korupsi. Karena Millenial merupakan generasi yang dapat lebih cepat dan adaptif terhadap perubahan dan kemajuan teknologi.

Upaya pembinaan tekad anti korupsi pada kalangan ASN millenial yang BERAKHLAK diharapkan mampu mempercepat perubahan sehingga upaya pemberantasan korupsi melalui ; perbaikan sistem, membangun nilai dan efek jera dapat berjalan dengan efektif dan efisien dengan tentunya didasari pemahaman yang benar.

Selain pemaparan yang disampaikan oleh para narasumber, para peserta juga diberikan pembinaan tekad anti korupsi melalui Game yang menarik dan permainan kerjasama untuk menyampaikan ide dan gagasan untuk pemberantasan korupsi. Dalam kegiatan ini BBPMSOH mengikutsertakan pegawai BBPMSOH yang diwakili oleh Fungsional Analis kepegawaian Muda dan Paramedik Veteriner Penyelia.

Salah satu tujuan dari program Kementerian Pertanian adalah mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045. Maka untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan kerja keras dan upaya upaya extra ordinary. Kita tidak bisa lagi bekerja biasa biasa saja. Maka yang perlu dilakukan oleh kita pada setiap upaya yang kita lakukan, maka harus dilakukan dengan cara CCA yaitu Cepat, Cermat dan Akurat. Untuk dapat bekerja dengan Cepat, Cermat dan Akurat maka diperlukan pendukung yang kuat yang akan menjadi agen perubahan dan itu diharapkan dapat dilakukan oleh ASN Millenial yang BERAKHLAK. (why)