Webinar Nasional BBPMSOH
Peran Obat Hewan Dalam Peningkatan Produksi Ternak dan Ekspor

Gunungsindur (22/12/2020), Pada hari Selasa tanggal 22 Desember 2020 bertempat di ruang seminar, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) meyelenggarakan Webinar Nasional dengan bertajuk “Peran Obat Hewan dalam Peningkatan Produksi Ternak Nasional dan Peningkatan Ekspor (Gratieks)”. Acara webinar dengan skala nasional ini merupakan webinar pertama kalinya yang diselenggarakan oleh BBPMSOH, dengan menghadirkan narasumber diantaranya :

  1. Dr. Ir. Nasrullah, M. Sc (Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan)
  2. Prof. DR. IR Iman M Fahmid M.T Dev (Staff Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian)
  3. drh. Fadjar S. Tjatur Rasa, Ph. D (Direktur Kesehatan Hewan)
  4. drh. Maidaswar, M. Si (Kepala BBPMSOH)
  5. drh. Irawati Fari (Ketua ASOHI)
    Acara webinar yang dimoderatori oleh : Dr. drh. Maria Fatima Palupi, M. Si ini dimulai pukul 08.00 – 12.00 WIB dengan diikuti oleh seluruh peserta sebanyak lebih dari 220 peserta yang berasal dari Asosiasi Obat Hewan Indonesia, Dinas Peternakan Provinsi dan Kabupaten / Kota, Akademisi dan UPT Kementerian Pertanian. Menurut drh. Maidaswar, M.Si selaku Kepala BBPMSOH, Webinar ini merupakan salah satu cara BBPMSOH untuk menghadirkan lebih dekat lagi kepada stake holder yang menjadi mitra kerja kami, yang mana BBPMSOH merupakan UPT Pertanian yang mempunyai mandatori dalam pelaksanaan pengujian dan sertifikasi obat hewan untuk seluruh Indonesia. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya BBPMSOH tentunya sangat membutuhkan kerja bersama kita, baik dari produsen obat hewan, Dinas Peternakan Kesehatan Hewan baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten / Kota.

Acara webinar ini dibuka oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, dalam sambutannya Dr. Ir. Nasrullah, M. Sc menyampaikan bahwa dalam RPJMN 2020-2024 terkait Strategi Pembangunan Pertanian yang telah disusun pemerintah, telah ditetapkan angka angka kuantitatif dari produksi sub sektor peternakan, maka ketersediaan pangan asal ternak menjadi prioritas utama untuk menjamin ketersediaan pangan sumber protein hewani diantaranya adalah komoditas komoditas strategis seperti daging , susu dan telur. Dalam peningkatan produksi maka program kesehatan hewan menjadi point yang sangat penting untuk mengawal peningkatan produksi untuk keberlanjutan dan kualitasnya. Pelayanan kesehatan hewan menjadi sesuatu yang harus kita lakukan, dalam tindakan pencegahan maka obat hewan perlu kita sediakan dalam jumlah dan kualitas yang sesuai dengan yang kita harapakan. Maka hal ini tergantung kepada kesiapan kita untuk menyediakan obat hewan yang sesuai dengan apa yang kita harapakan, baik dari segi jumlah, kulaitas dan khasiatnya. Maka diperlukan upaya pembinaan dan pengaturan yang sebaik baiknya terhadap pembuatan, penyediaan dan peredaran obat hewan. Dari segi mutu obat hewan, BBPMSOH memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin mutu dan khasiat obat hewan yang beredar di seluruh Indonesia. Penerbitan sertifikat mutu obat hewan oleh BBPMSOH menjadi acuan bagi seluruh Indonesia dalam menggunakan obat ataupun vaksin, sehingga diperlukan sebuah ketepatan, keakuratan dan kepercayaan dari sertifikasi yang dikeluarkan oleh BBPMSOH. Selain itu Nasrullah juga berharap agar ekspor obat hewan kita dapat lebih meningkat dari tahun ke tahun, yang mana jumlah ekspor obat hewan kita telah mencapai 661 ton dengan nilai USD 10,2 Juta. Pada tahun 2020 ini BBPMSOH telah dilengkapi dengan peralatan pengujian yang lebih canggih dan lengkap, dengan ini diharapkan BBPMSOH dapat melayani pengujian pengujian yang selama ini ada beberapa pengujian yang belum dapat dilaksanakan di BBPMSOH. Sehingga nantinya para produsen obat hewan dapat lebih meningkatkan produksi obat hewan yang dapat pula meningkatkan ekspor obat hewan. Dengan program Gratieks diharapkan pada tahun 2024 volume ekspor peternakan mencapai 300% atau 884 ton untuk tujuan 100 negara.

Dalam pemaparan materi yang pertama, Prof. DR. IR Iman M Fahmid M.T Dev menyampaikan bahwa obat hewan menjadi alat pendukung untuk meningkatkan ekspor, untuk itu diperlukan adanya sinergitas antara pemerintah, pelaku usaha obat hewan dan masyarakat. Yang pertama menurut beliau konsep pengembangan obat hewan sebetulnya basisnya ada pada masyarakat (peternak). Karena tujuan pengembangan obat hewan adalah untuk memepekuat produksi peternakan sehingga dapat meningkatkan ekspor produk peternakan. Menurut beliau, persoalan non teknis merupakan hal yang penting harus diperhatikan di masyarakat. Pelayanan pemerintah dituntut untuk menigkatkan volume obat hewan agar terjadi peningkatan ekonomi, salah satu caranya yaitu dengan pendekatan kepada masyarakat sosial secara rasional. Yang kedua obat hewan yang strategis harus mengarah ke komoditi produk-produk yang kita kuasai, contoh komoditi dalam bidang perunggasan, agar menambah nilai dan volume ekspor, namun tidak mengesampingkan komoditi peternakan lainnya. Yang terakhir, karena ini soal kebijakan, kita dituntut untuk meningkatkan ekspor. Nah caranya adalah bukan pada menggerakan kelompok tertentu saja, akan tetapi ini harus menjadi gerakan sosial dan mendekatkan program kebijakan kita pada masyarakat, ujar Prof Imam.

Pada sesi pemaparan yang ketiga, Direktur Kesehatan Hewan drh. Fadjar S. Tjatur Rasa, Ph. D memaparkan presentasi terkait “Regulasi Obat Hewan dalam Mendukung Produksi Pangan Asal Ternak dan Ekspor”. Pada pemaparannya diawal, Dir Kes Wan meyoroti perihal Program Kesehatan Hewan dalam Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan, yaitu :

  1. Program Penguatan Kelembagaan Kesehatan Hewan
  2. Program Pengembangan Sumber daya Manusia(SDM) Kesehatan Hewan
  3. Program Fasilitasi Perdagangan Ternak dan Obat Hewan dalam Daya Saing Ekspor
  4. Perlindungan Hewan terhadap Ancaman Penyakit Hewan Eksotik dan Penyakit Hewan Menular dari Luar Negeri
  5. Kesiagaan terhadap pemasukan penyakit eksotik
  6. Program Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan
    Selain itu Direktorat Kesehtan Hewan juga mempunyai program utama antara lain : Peningkatan Daya Saing Ekspor Obat Hewan, Pengendalian Impor Hewan dan Obat Hewan, Penaganan Penyakit ASF dengan Vaksin Dalam Negeri dan Peningkatan Ekspor Hewan dan Produk Hewan.
    Dalam pendaftaran obat hewan telah diberlakukan antrian pendaftaran obat hewan dengan memperhatikan skala prioritas:
  7. Pengendalian wabah
  8. Orientasi ekspor
  9. Produksi dalam negri
  10. Reguler
    Pelayanan obat hewan online memiliki pengembangan melalui pelaporan pengawas obat hewan, pendaftaran obat hewan, izin usaha, ekspor dan impor obat hewan. Selain itu pengawasan terpadu obat hewan dan pakan di Indonesia bekerja sama dengan Kementan, PPNS, Bareskrim, BPOM dan ASOHI.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Kepala BBPMSOH, drh. Maidaswar, M. Si mengenai “Layanan BBPMSOH dan peran strategis dalam mendukung Kesehatan Hewan Nasional”. Maidaswar menjelaskan bahwa BBPMSOH merupakan Unit Pelayanan Teknis yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengujian dan sertifikasi obat hewan, pemantauan dan pengkajian obat hewan yang diatur dalam Permentan No 53 Tahun 2013. Penjaminan obat hewan harus aman dan berkualitas untuk hewan itu sendiri serta aman bagi manusia yang mengkonsumsinya. Dalam melaksanakan pelayanan pengujian obat hewan, BBPMSOH memiliki Sistem Informasi Hasil Pengujian Mutu Obat Hewan atau yang disingkat SIHAPSOH dan setiap produsen obat hewan dapat melakukan pendaftaran secara online melalui aplikasi SIHAPSOH. Selain itu BBPMSOH selalu melakukan pengembangan dan inovasi dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada stake holder baik dalam peningkatan peralatan, peningkatan teknologi dan sumber daya manusia nya melalui bimbingan teknis. BBPMSOH terus berusaha dalam meningkatkan pelayanan pengujian obat hewan, salah satunya dengan menambah peralatan pengujian dengan peralatan yang lebih lengkap canggih, sehingga dapat memenuhi 100% permintaan jenis pengujian dari permohonan pengujian obat hewan. Sehingga dapat mendukung peningkatan produksi obat hewan dan ekspor obat hewan.

Selamjutnya drh. Irawati Fari dari Asosiasi Obat Hewan, menjadi pemateri terakhir dalam acara webinar ini. Dalam paparannya Irawati menyampaikan tentang “Kontribusi Obat Hewan dan Peluang Ekspor Obat Hewan”. ASOHI didirikan dengan maksud untuk mewujudkan Usaha Obat Hewan di Indonesia yang Tangguh, Mandiri dan Bertanggung Jawab. Dalam kontribusinya untuk obat hewan, ASOHI berperan sebagai Mitra Pemerintah dan Stake Holder, berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan hewan, mewujudkan usaha obat hewan yang sehat tertib dan bertanggung jawab. Beberapa peluang produk ekspor diantaranya : Vaksin, Farmasetik, Herbal, Alat Peternakan, Feed Additive dan Feed Suplement.
Kebijakan membatasi produk impor dan meningkatan ekspor menjadi tantangan bagi negara yang akan mengekspor produknya ke Indonesia. ASOHI juga berharap pemerintah agar memberikan keringanan dalam pendanaan untuk pengembangan usaha produk lokal dan ekspor, membuka peluang kepada para peneliti dalam negri untuk meningkatan daya saing ke luar negeri, ujar Irawati.

Selain pemaparan materi oleh para narasumber, para peserta juga diberikan kesempatan untuk dapat mengajukan pertanyaan kepada para narasumber. Acara webinar berjalan dengan lancar dan semoga ini menjadi langkah awal yang baik untuk selanjutnya dapat ditingkatkan untuk kordinasi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat peternakan. (Why)