Teknologi Jepang Masuk Kandang Kementan Siap Geber Produksi Susu dan Daging Nasional
Jakarta - Langkah Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat produksi susu dan daging nasional mendapat dukungan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Lewat skema kerja sama teknis, lembaga asal Jepang itu akan mengirim tenaga ahli jangka panjang (long term expert) untuk mentransfer teknologi dan pengetahuan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) strategis, yang ada di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Targetnya, UPT mampu jadi pusat inovasi sekaligus penggerak utama peningkatan produktivitas peternakan nasional.
“UPT harus menjadi pusat inovasi sekaligus pembina teknis bagi peternak, pelaku usaha serat Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) sebagai salah satu upaya percepatan peningkatan produksi nasional . Transfer teknologi dari tenaga ahli JICA kita harapkan membawa perubahan signifikan, baik dalam peningkatan kualitas, dan produksi maupun efisiensi biaya produksi,” tegas Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nuryani Zainudin, saat bertemu perwakilan JICA di Jakarta, Selasa (5/8).
Kerja sama ini menjadi bagian dari Program Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN), yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam RPJMN 2025–2029. Selain memperkuat ketahanan pangan, program ini juga mendukung implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta menjadi salah satu pijakan menuju visi besar Indonesia Emas 2045.
Sebagai bentuk langkah nyata, Ditjen PKH mengusulkan lima fokus kerja sama peningkatan kapasitas: penguatan perencanaan dan evaluasi peternakan, manajemen padang penggembalaan dan hijauan pakan ternak (HPT), teknologi pakan dan nutrisi, sistem perbibitan termasuk digitalisasi data, inseminasi buatan (IB), dan transfer embrio (ET), serta penerapan praktik Good Animal Husbandry.
Skema kerja sama ini dirancang fleksibel. Jika tenaga ahli utama (long term expert) memiliki latar belakang di bidang sapi perah, maka JICA akan mempertimbangkan mengirimkan short term expert di bidang sapi potong. Begitu juga sebaliknya. Skema ini memungkinkan kolaborasi berjalan lebih efektif dan sesuai kebutuhan teknis di lapangan.
Senior Representative JICA Indonesia, Kenji Okamura, menyatakan komitmennya terhadap program ini. “Kami menyambut baik langkah Indonesia memperkuat subsektor peternakan melalui kerja sama ini. Fokus pada transfer pengetahuan dan teknologi ke UPT adalah langkah strategis untuk menciptakan dampak jangka panjang dan berkelanjutan,” ujarnya.
Tak hanya itu, JICA juga membuka peluang dukungan tambahan berupa tenaga ahli jangka pendek (short term expert) untuk memperkuat sektor spesifik seperti pengembangan sapi perah atau sapi potong, sesuai dengan fokus prioritas nasional.
Kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat transformasi sistem peternakan Indonesia agar lebih inovatif, berbasis teknologi, dan mampu menjawab tantangan kebutuhan gizi nasional di masa depan.