Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Dari Laboratorium Menuju Era Genomik: Membangun SDM Bioinformatika Veteriner Indonesia

21/07/2026 09:54:15 Admin Satker 16

"Di era ketika jutaan data genom dapat dihasilkan hanya dalam hitungan jam, kemampuan membaca dan menginterpretasikan data menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan data itu sendiri."

Revolusi teknologi Whole Genome Sequencing (WGS) telah mengubah wajah dunia kesehatan hewan. Jika dahulu identifikasi suatu virus atau bakteri membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, kini informasi genetik lengkap suatu agen penyakit dapat diperoleh hanya dalam waktu singkat. Namun, di balik kecanggihan mesin sekuensing tersebut, terdapat tantangan yang jauh lebih besar, yaitu bagaimana mengolah jutaan data hasil sekuensing menjadi informasi yang bermakna untuk mendukung pengambilan keputusan.

Peranan Penting Bioinformatika

Bioinformatika bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat lunak, tetapi merupakan perpaduan ilmu biologi molekuler, komputer, statistika, dan analisis data untuk memahami informasi genetik suatu organisme. Bidang ini kini menjadi tulang punggung dalam surveilans penyakit, karakterisasi patogen, pengembangan vaksin, hingga investigasi wabah penyakit hewan.

Melihat pentingnya penguasaan kompetensi tersebut, Direktorat Kesehatan Hewan, bekerja sama dengan FAO ECTAD Indonesia, Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP), dan Balai Besar Veteriner Wates (BBVet Wates) menyelenggarakan 2026 CLI-Based Bioinformatics Training for Indonesian Animal Health Laboratories pada tanggal 13–17 Juli 2026 di Gramm Hotel, Kabupaten Sleman-Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas laboratorium kesehatan hewan Indonesia dalam menguasai analisis bioinformatika berbasis Command Line Interface (CLI), mulai dari konsep dasar hingga penerapan analisis data genom secara mandiri.

Menyiapkan SDM Menghadapi Laboratorium Masa Depan

Pelatihan ini bukan merupakan pelatihan komputer biasa. Selama lima hari penuh, peserta ditantang keluar dari zona nyaman untuk memasuki dunia komputasi berbasis terminal Linux, lingkungan kerja yang menjadi standar internasional dalam analisis bioinformatika.

Sebanyak 12 peserta dari tujuh institusi laboratorium kesehatan hewan di Indonesia mengikuti pelatihan intensif yang dipandu oleh para instruktur dari BBVet Wates serta narasumber nasional dan internasional. Dalam training ini BBPMSOH mengirimkan 2 Medik Veteriner Madya yaitu Drh. Ernes Andesfha,M.Si dan Drh. Ramlah, M.Si.

Materi yang diberikan dirancang secara bertahap sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan seluruh tahapan analisis genom secara mandiri. Pembelajaran dimulai dari pengenalan sistem operasi Linux dan berbagai perintah dasar (command line), dilanjutkan dengan pengelolaan data sekuensing, penilaian kualitas data menggunakan FastQC, NanoPlot, dan NanoFilt, hingga pembangunan conda environment sebagai fondasi instalasi perangkat lunak bioinformatika. Selanjutnya peserta diperkenalkan pada teknologi Oxford Nanopore Sequencing, teknik perakitan genom (genome assembly), pembentukan sekuens konsensus menggunakan perangkat lunak IRMA khusus untuk virus Influenza, interpretasi hasil analisis, serta identifikasi virus menggunakan BLAST. Seluruh rangkaian tersebut diakhiri dengan studi kasus yang mengintegrasikan seluruh materi menjadi satu alur analisis bioinformatika yang utuh.

Yang membuat pelatihan ini berbeda adalah pendekatan learning by doing. Setiap peserta diwajibkan menginstal perangkat lunak, menjalankan analisis secara langsung, memecahkan berbagai kendala teknis, hingga mempresentasikan hasil analisis genom yang telah dikerjakan. Pendekatan ini membangun kepercayaan diri peserta untuk mengimplementasikan bioinformatika di laboratorium masing-masing setelah pelatihan selesai.

Mengapa Bioinformatika Sangat Penting?

Kemajuan teknologi sekuensing telah menghasilkan data dalam jumlah yang luar biasa besar. Namun, data tanpa analisis hanyalah kumpulan huruf A, T, G, dan C yang belum memiliki makna biologis.

Melalui bioinformatika, data tersebut dapat diterjemahkan menjadi informasi yang sangat penting, seperti:

  • mengidentifikasi spesies virus atau bakteri penyebab penyakit;
  • menentukan genotipe, subtipe, maupun karakteristik patogen;
  • mendeteksi mutasi genetik yang berpotensi memengaruhi virulensi atau efektivitas vaksin;
  • melakukan penelusuran asal-usul penyebaran penyakit (molecular epidemiology);
  • mengidentifikasi kandungan vaksin, seed challenge, maupun agen patogen melalui pendekatan genomik.

Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting dalam mendukung sistem surveilans penyakit hewan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis bukti ilmiah.

Manfaat Strategis bagi BBPMSOH

Bagi Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), penguasaan bioinformatika membuka peluang baru dalam meningkatkan kualitas pengujian laboratorium.

Selama ini BBPMSOH telah dikenal sebagai laboratorium rujukan dalam pengujian mutu obat hewan dan vaksin. Seiring berkembangnya teknologi genomik, kebutuhan analisis tidak lagi berhenti pada pemeriksaan laboratorium konvensional, tetapi juga mencakup interpretasi data hasil Whole Genome Sequencing (WGS).

Melalui kompetensi bioinformatika, BBPMSOH akan semakin mampu mendukung berbagai kegiatan strategis, antara lain identifikasi kandungan vaksin virus, bakteri, maupun parasit, karakterisasi seed challenge, identifikasi agen patogen, hingga analisis genom untuk mendukung pengawasan mutu produk veteriner. Kompetensi ini akan memperkuat peran BBPMSOH sebagai laboratorium yang adaptif terhadap perkembangan teknologi diagnostik modern.

Membangun Jejaring Bioinformatika Nasional

Salah satu capaian paling penting dari pelatihan ini adalah terbentuknya jejaring nasional bioinformatika veteriner. Seluruh peserta ditetapkan sebagai Champion Bioinformatika di unit kerja masing-masing untuk mendukung BBVet Wates sebagai ASEAN Regional Bioinformatics Reference Centre.

Peran Champion tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Mereka akan menjadi penggerak implementasi bioinformatika di institusi masing-masing, berbagi pengetahuan kepada rekan kerja, mengikuti diskusi ilmiah secara berkala, serta menjadi bagian dari komunitas ahli bioinformatika nasional yang saling mendukung dalam pengembangan kapasitas laboratorium kesehatan hewan Indonesia.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Keberhasilan transformasi digital laboratorium tidak dapat dilakukan oleh seorang peneliti saja. Diperlukan kolaborasi antara peneliti, analis laboratorium, bioinformatikawan, serta tenaga teknologi informasi (IT). Dalam tindak lanjut pelatihan, BBVet Wates juga menekankan pentingnya keterlibatan staf IT di setiap laboratorium agar infrastruktur komputasi dapat berkembang seiring meningkatnya kebutuhan analisis genom. Pendekatan multidisiplin inilah yang akan menjadi fondasi laboratorium kesehatan hewan modern di masa depan.

Menatap Masa Depan

Transformasi laboratorium veteriner menuju era genomik bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Penyakit hewan terus berkembang, teknologi semakin maju, dan tantangan kesehatan global semakin kompleks. Oleh karena itu, investasi terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah membangun sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Keikutsertaan BBPMSOH dalam pelatihan CLI-Based Bioinformatics Training 2026 merupakan langkah nyata dalam memperkuat kapasitas institusi menghadapi era diagnostik berbasis genom. Kompetensi yang diperoleh tidak hanya menjadi bekal individu peserta, tetapi juga menjadi modal bersama bagi BBPMSOH untuk terus berinovasi dalam memberikan layanan laboratorium yang berkualitas, terpercaya, dan berstandar internasional.

Karena pada akhirnya, kemajuan laboratorium tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan peralatan, tetapi juga oleh kemampuan manusianya dalam mengubah data menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi solusi bagi kesehatan hewan Indonesia.