Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

BBPMSOH Bawa Pesan Inklusi ke Panggung Internasional: Edukasi Rabies bagi Siswa Tuli Dipresentasikan pada European Congress on Public Health and Epidemiology 2026

18/09/2026 08:27:00 Admin Satker 42

London, 15 September 2026 — Upaya membangun komunikasi kesehatan yang inklusif mendapat ruang pada forum internasional 3rd European Congress on Public Health and Epidemiology yang diselenggarakan di London, Inggris, pada 14–15 September 2026. Dalam forum tersebut, Muhammad Zahid, B.Sc., M.Sc., Pharm. dari National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL/BBPMSOH), Ministry of Agriculture, Republic of Indonesia, mempresentasikan kajian bertajuk “Breaking Communication Barriers: Inclusive Rabies Awareness for Deaf Students in Indonesia.” Agenda kongres mencantumkan presentasi tersebut dalam sesi Virtual Presentations Day 2 pada 15 September 2026 pukul 09.55–10.20.

Ketika Pesan Kesehatan Belum Tentu Menjangkau Semua

Rabies masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Namun, keberhasilan pencegahan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya informasi, melainkan juga oleh sejauh mana informasi tersebut dapat dipahami dan diakses oleh seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Berangkat dari persoalan tersebut, BBPMSOH mengangkat pengalaman pelaksanaan kampanye rabies inklusif bagi siswa Tuli di SLB-B Tunas Kasih 2 Kota Bogor, Jawa Barat. Kampanye dirancang dengan menyesuaikan cara penyampaian pesan kesehatan terhadap kebutuhan peserta didik Tuli, bukan sekadar menyampaikan materi kesehatan dengan pendekatan konvensional.

Pendekatan yang digunakan mengombinasikan pembelajaran berbasis visual, penyederhanaan pesan, dukungan bahasa isyarat BISINDO, presentasi interaktif, video edukasi, kuis, permainan, serta evaluasi pengetahuan melalui pre-test dan post-test. Kegiatan melibatkan lebih dari 60 peserta yang terdiri atas siswa Tuli, guru, dan orang tua.

Dari 35% Menjadi 85%: Ketika Komunikasi Dibuat Lebih Aksesibel

Salah satu temuan utama yang dipresentasikan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti sesi edukasi inklusif selama tiga jam.

Sebelum intervensi, 35% peserta mampu menjawab pertanyaan kunci tentang rabies dengan benar. Setelah kegiatan edukasi, angka tersebut meningkat menjadi 85%, atau terjadi peningkatan sebesar 50 percentage points. Evaluasi mencakup lima pertanyaan utama mengenai pengertian rabies, cara penularan, hewan yang dapat menularkan rabies, cara mencegah gigitan, serta tindakan yang tepat setelah terjadi gigitan hewan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta dapat menjadi bagian penting dalam memperluas akses terhadap informasi kesehatan yang bersifat menyelamatkan jiwa.

  

Dari Ruang Kelas Menuju Kolaborasi Lintas Sektor

Kegiatan tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam membangun komunikasi kesehatan yang inklusif. Pelaksanaan kampanye melibatkan Kementerian Pertanian/BBPMSOH, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Pemerintah Kota Bogor melalui sektor terkait, serta KONEKSI Australia–Indonesia.

Tidak berhenti pada kegiatan edukasi, guru dan orang tua juga melaporkan meningkatnya kepercayaan diri dalam memperkuat pesan pencegahan rabies di lingkungan sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, komunikasi kesehatan tidak hanya berlangsung antara fasilitator dan peserta, tetapi dapat diteruskan melalui lingkungan sosial terdekat peserta didik.

Inklusi sebagai Bagian dari One Health

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan One Health tidak hanya berbicara mengenai keterkaitan manusia, hewan, dan lingkungan, tetapi juga mengenai bagaimana intervensi kesehatan dapat dirancang agar tidak meninggalkan kelompok masyarakat tertentu.

Melalui pengalaman kampanye rabies inklusif ini, BBPMSOH menunjukkan bahwa komunikasi yang inklusif dapat menjadi salah satu komponen penting dalam pencegahan penyakit zoonotik. Pendekatan tersebut berpotensi dikembangkan dan disesuaikan untuk kelompok disabilitas maupun konteks pendidikan lainnya. Abstrak yang dipublikasikan juga menempatkan pendekatan ini sebagai model yang berpotensi diperluas dalam program pencegahan penyakit zoonotik yang lebih inklusif.

Membawa Pengalaman Lokal ke Forum Global

Presentasi pada forum internasional tersebut menjadi kesempatan bagi BBPMSOH untuk membawa pengalaman berbasis komunitas dari Bogor ke dalam diskusi kesehatan masyarakat global.

Pesan yang dibawa sederhana, tetapi penting:

“Rabies prevention is only as inclusive as the communication behind it.”

Pencegahan rabies tidak cukup hanya dengan memastikan pesan tersedia. Pesan tersebut harus dapat diterima, dipahami, dan digunakan oleh semua orang.

 

Si MOHI